Aku tidak akan menulis tentang cinta, jika cinta itu bukan kamu.
Tapi aku akan selalu berpuisi cinta, karena cinta itu adalah aku.
Puisiku mungkin tak akan sekelas dewi sastra.
Tapi jika kau ingin tahu bahwa setiap huruf, titik dan koma, itu.
Itu ada hembusan nafas dari ruh cintaku yang mungkin mampu kau sentuh walau dari jarak jauh.
Aku ingin bertanya, dan jawablah tanpa perlu bibirmu terbata-bata.
Kenapa kau selalu sempat muram, padahal aku selalu menjadi pemerhati terbaikmu yang amatiran?
Tidakkah kamu mendengar aku yang tersengguk, saat kamu menangis tertunduk?
Bukankah letup tangisku lebih mencekik dari seribu jangkrik yang menderik?
Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan
Kamis, 06 November 2014
Cinta Adalah Aku
Sabtu, 06 September 2014
GELAP
Setiap kali aku ingin memuntahkan rasa sakit ini.
Melalui lidah tanpa suara yang mendesah.
Ternyata selalu saja ujung mataku yang lebih dahulu basah.
Apakah disana Kau juga merasakan dadaku yang menjalar sakit dan perih yang meringkih.
Maaf Tuhan, Aku katakan ini sakit.
Terasa kulit hatiku yang kering ini Kau cubit-cubit.
Lalu semakin lemah aku mengeja nama-Mu riuh melangit.
Semakin terasa pula urat-urat di sekujur tubuhku saling terjepit.
Sakit.
Aku katakan ini sakit.
Nyeri.
Lagi-lagi Kau membuatku nyeri.
Nyeri hanya mampu mendengar kalimat-Mu lewat bibirku yang kadang kaku.
Hingga telingaku kadang tak sanggup menyeret alunan itu menyentuh dinding Qalbu.
Kau Tahu? Jariku gemetar meraba urat-urat hitam di atas kertas suci itu. Apakah bisa?
Apakah bisa huruf-huruf itu mengobati rindu yang sudah terlalu?Oh Tuhan.
Bagaimana bisa aku mengatakan ini rindu.
Bagaimana bisa aku katakan ini rin du..? Sedang aku tak tahu seperti apa itu rindu.
Maafkan aku Tuhan. Aku katakan ini sakit.
Mengapa harus begini gelapnya hanya ingin menatap wajah-Mu? Ya. Gelap.
Tak ada yang lebih gelap selain mencari wujud-Mu yang tak jua tersingkap.
Bahkan kornea mata pemberian-Mu ini tak pernah mampu untuk menangkap.
Tuhan. Maafkan aku mengatakan ini sakit.
Karena tak ada yang lebih sakit selain menyentuh-Mu yang amat sangat sulit.
Kau benar-benar cahaya di atas segala cahaya dan cahaya dan cahaya. Di atas segalanya.
Dan cahaya itu terang. Dan Kau terang di atas segala terang dan terang dan terang. Di atas segalanya.
Oh Tuhan.
Mengapa harus segelap ini hanya ingin menatap wajah-Mu.
Aku gelap. Dunia ini gelap. Gelap di atas segala gelap dan gelap.
Karena Kau cahaya. Dan dunia adalah gelap.
Lalu aku dimana. Lalu aku dimana.
Dimana saat Kau bilang Kau amat dekat.
Sedang mata dan hati dan mata hatiku selalu pekat.
Ya. Kadang aku merasa dekat.
Tapi apa benar Kau pernah begitu dekat?
Bukankah Kau begitu dekat sedekat-dekatnya dekat dan amat begitu dekat.
Hanya ketika aku dalam gelap segelap-gelapnya liang lahat?
Tuhan.
Sungguh maafkan aku mengatakan ini sakit.
Di Ujung Senja
Jika saja, aku tahu kapan matahari kembali ke peraduannya. Saat
langit mulai memerah. Tapi aku hanya tahu tanda-tandanya lewat rambutmu yang
mulai bercahaya putih cerah.Dan senja semakin dekat. Juga wajahmu yang semakin lekat
dalam hatiku yang masih pengap. Gegap gempita membutuhkan sinar dari wajahmu
yang berbinar.
Bagaimana bisa aku tak mengingatmu. Sedang hanya namamu yang
begitu kuat merobek hatiku begitu dalam. Pahatannya begitu jelas dan selalu
terang. Kau satu-satunya yang paling aku sayang.
Sampai saat ini, sudah setengah abad lebih kau menemaniku.
Bahkan itu tak pernah cukup untukku. Aku bahkan pernah meminta kepada Tuhan.
Agar Dia tak menyuruhmu pulang sebelum aku yang lebih dahulu pulang. Aku tak
mengerti kenapa Tuhan memberiku sesosok malaikat yang begitu istimewa dalam
hidupku, lalu Dia akan mengambilnya lagi sewaktu-waktu.
Bagaimana bisa aku tak mengingatmu. Bahkan aku belum bisa
mengusap setiap peluh yang basah di kulitmu. Melukiskan sebuah sabit manis di
bibirmu.Tapi apa? Aku beranjak dewasa terlalu cepat hingga wajahmu keburu
bergurat.
Di ujung senja tanpa roda yang bisa berputar ke semula. Aku
titipkan sajak doa untuk umi tercinta.
Jika Kau Mau
Kau salah, menilaiku begitu rendah. Aku bukanlah bocah-bocah
yang berlari mengejar layang-layang putus sampai menyebrangi ladang dan sawah.
Kakiku memang penuh lumpur dan debu. Tapi bukan karena aku mengejarmu hingga
basah kotor seluruh kakiku. Melainkan menghindarimu yang sesulit menangkap
angin dan kutu.
Tidaklah kau mendengar setiap alunan penaku yang tersuling
untukmu itu. Ah, sudahlah aku tahu kau tidak tahu. Sekalipun kau tahu, pasti
akan pura-pura tidak tahu. Dan sayangnya kau tidak tahu itu bahwa kau tahu dan
aku tahu kau tahu.
Atas dasar teman. Aku gelarkan karpet merah untuk selalu terbuka
menyambutmu jika kau mau. Tapi hei, jangan pernah berfikir bahwa aku sama
dengan bocah-bocah itu.
Selalu buka telingamu untukku. Karena aku akan berteriak kencang
jika di depanmu ada lubang. Atau kubangan, selokan, batu atau ranjau yang
menghalangi kakimu. Aku peduli jika kau mau mendengar. Tapi aku akan tetap
berteriak walau telingamu menghindar. Sampai akhirnya semesta lah yang berbicara
dan memberi kabar.
Sewaktu-waktu.Ya.
*Jika
kau mau.
Langganan:
Postingan (Atom)